Kebutuhan pallet gudang perlu dihitung berdasarkan jumlah barang, ukuran area penyimpanan, kapasitas muatan, sistem rak, dan frekuensi handling. Perhitungan yang tepat membantu perusahaan menghindari kekurangan pallet saat operasional sekaligus mencegah pembelian berlebihan yang membuat anggaran dan ruang penyimpanan tidak efisien.
Bagi Warehouse Manager, Supply Chain Manager, maupun Purchasing, pallet bukan sekadar alas untuk menempatkan barang. Pemilihan jumlah dan spesifikasi yang tepat berpengaruh terhadap alur material handling, pemanfaatan ruang, keamanan barang, hingga kelancaran proses inbound dan outbound.
Daftar Isi

Mengapa Perhitungan Kebutuhan Pallet Gudang Penting?
Jumlah pallet yang tersedia perlu mengikuti ritme operasional gudang. Jika jumlahnya terlalu sedikit, pallet yang baru selesai digunakan harus segera dipindahkan untuk kebutuhan lain. Kondisi tersebut dapat menghambat proses picking, staging, maupun pengiriman.
Sebaliknya, terlalu banyak pallet juga dapat menimbulkan masalah. Pallet kosong membutuhkan area penyimpanan dan dapat meningkatkan biaya investasi tanpa memberikan manfaat operasional yang sebanding.
Karena itu, perusahaan perlu menghitung kebutuhan berdasarkan kapasitas penyimpanan dan siklus penggunaan pallet, bukan sekadar memperkirakan jumlah secara kasar.
Faktor yang Menentukan Kebutuhan Pallet Gudang
Sebelum melakukan perhitungan, kumpulkan data operasional yang relevan. Beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan adalah:
1. Jumlah Barang yang Disimpan
Hitung berapa banyak unit barang yang harus ditempatkan di atas pallet. Misalnya, satu pallet mampu menampung 50 karton, sedangkan gudang menyimpan 5.000 karton.
Secara sederhana:
5.000 karton ÷ 50 karton per pallet = 100 pallet
Angka tersebut merupakan kebutuhan dasar. Dalam operasional nyata, perusahaan tetap perlu menyediakan cadangan untuk mengantisipasi pallet yang sedang digunakan di area loading, produksi, atau proses pengiriman.
2. Dimensi Barang dan Pallet
Ukuran pallet harus sesuai dengan ukuran barang. Barang sebaiknya tidak terlalu banyak melewati sisi pallet karena dapat mengurangi stabilitas muatan dan meningkatkan risiko kerusakan.
Ukuran yang umum digunakan antara lain 110 × 110 cm, 120 × 100 cm, dan 120 × 120 cm. Namun, tidak ada satu ukuran yang cocok untuk seluruh gudang.
Pilih ukuran berdasarkan pola penyimpanan dan karakteristik barang, bukan hanya karena ukuran tersebut banyak tersedia di pasaran.
3. Sistem Penyimpanan Gudang
Kebutuhan pallet akan berbeda antara gudang yang menggunakan floor stacking dan gudang dengan pallet racking.
Pada floor stacking, satu pallet dapat menampung barang dalam satu posisi lantai dan memungkinkan penumpukan vertikal jika karakteristik produk serta pallet mendukung.
Pada racking, jumlah pallet lebih berkaitan dengan jumlah posisi pallet pada rak. Kapasitas rak, jarak beam, dan spesifikasi pallet harus diperhitungkan agar penyimpanan aman.
4. Frekuensi Perputaran Barang
Gudang dengan turnover tinggi membutuhkan jumlah pallet yang lebih banyak karena pallet terus berpindah antara area receiving, storage, picking, staging, dan loading.
Jika satu pallet membutuhkan waktu beberapa jam hingga kembali tersedia, perusahaan perlu memperhitungkan waktu siklus tersebut dalam menentukan jumlah pallet.
Cara Menghitung Jumlah Pallet Gudang
Perhitungan awal dapat dilakukan dengan rumus:
Jumlah pallet = total barang ÷ kapasitas barang per pallet
Sebagai contoh, sebuah gudang menyimpan 12.000 karton. Jika satu pallet dapat menampung 60 karton:
12.000 ÷ 60 = 200 pallet
Namun, 200 unit belum tentu menjadi jumlah pengadaan akhir. Tambahkan kebutuhan operasional seperti pallet yang berada di area receiving, staging, loading, serta cadangan.
Jika perusahaan menetapkan cadangan 10%, maka:
200 + (10% × 200) = 220 pallet
Dengan demikian, kebutuhan operasional menjadi sekitar 220 pallet.
Cara Menentukan Ukuran Pallet yang Tepat
Ukuran pallet sebaiknya ditentukan setelah mengetahui dimensi barang dan pola penataan. Tujuannya adalah mendapatkan penggunaan area yang efisien tanpa mengorbankan stabilitas.
Pallet 120 × 100 cm
Ukuran ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan gudang dan distribusi. Pilihan ini perlu disesuaikan dengan ukuran karton, pola susun, serta kapasitas storage.
Pallet 120 × 120 cm
Area permukaannya lebih besar sehingga dapat menjadi pilihan untuk muatan yang membutuhkan bidang alas lebih luas. Namun, perusahaan perlu memastikan aisle dan equipment handling dapat mengakomodasinya.
Pallet Custom
Untuk barang dengan dimensi khusus, pallet custom dapat dipertimbangkan. Solusi ini memungkinkan ukuran disesuaikan dengan produk, tetapi biaya pengadaan dan ketersediaannya perlu diperhitungkan.
Cara Menghitung Kapasitas Pallet
Selain jumlah dan ukuran, kapasitas beban merupakan aspek penting dalam kebutuhan pallet gudang. Jangan hanya melihat berat maksimum secara umum karena terdapat beberapa jenis kapasitas.
Static Load
Static load adalah kapasitas pallet ketika berada dalam kondisi diam di lantai.
Dynamic Load
Dynamic load merupakan kapasitas ketika pallet membawa muatan dan dipindahkan menggunakan forklift, hand pallet, atau equipment lainnya.
Racking Load
Racking load menunjukkan kemampuan pallet ketika digunakan pada sistem rak. Nilainya dapat berbeda dari static dan dynamic load.
Sebagai contoh, barang memiliki berat 800 kg per pallet. Pallet yang dipilih harus memiliki kapasitas dynamic load yang sesuai jika barang tersebut rutin dipindahkan menggunakan forklift.
Gunakan Data Aktual untuk Menentukan Spesifikasi
Perhitungan kebutuhan pallet akan lebih akurat jika menggunakan data operasional aktual. Warehouse Manager dapat mengumpulkan beberapa data berikut:
- Jumlah barang rata-rata dan maksimum.
- Berat setiap unit muatan.
- Dimensi produk atau kemasan.
- Jumlah posisi pallet dalam gudang.
- Frekuensi inbound dan outbound.
- Waktu rata-rata pallet kembali tersedia.
- Jumlah pallet rusak atau tidak layak pakai.
Data tersebut dapat digunakan untuk membuat perhitungan kebutuhan berdasarkan kondisi normal sekaligus skenario volume tertinggi.
Contoh Perhitungan Kebutuhan Pallet Gudang
Sebuah gudang memiliki kapasitas penyimpanan 300 posisi pallet. Rata-rata utilisasi gudang mencapai 85%, sehingga kebutuhan posisi terisi sekitar:
300 × 85% = 255 pallet
Selain pallet yang berada di storage, perusahaan membutuhkan 25 pallet untuk receiving dan staging serta 20 pallet untuk aktivitas loading.
Maka kebutuhan operasional:
255 + 25 + 20 = 300 pallet
Jika perusahaan menetapkan cadangan 10% untuk menggantikan pallet yang sedang diperiksa atau mengalami kerusakan:
300 + 30 = 330 pallet
Dengan perhitungan tersebut, kebutuhan pengadaan dapat diperkirakan sekitar 330 unit pallet.
Bagaimana Menghindari Kekurangan Pallet?
Kekurangan pallet biasanya terjadi ketika perusahaan hanya menghitung kapasitas storage tanpa memperhitungkan aktivitas lain. Pallet yang berada di area loading atau receiving tetap merupakan bagian dari kebutuhan operasional.
Untuk menghindarinya, perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah:
- Catat jumlah pallet yang masuk dan keluar setiap hari.
- Pisahkan pallet layak pakai dan pallet rusak.
- Tetapkan minimum stock pallet.
- Evaluasi kebutuhan saat volume barang meningkat.
- Standardisasi ukuran pallet jika memungkinkan.
Pencatatan tersebut juga membantu perusahaan mengetahui apakah jumlah pallet yang tersedia sudah sesuai dengan pola operasional.
Pallet Plastik untuk Kebutuhan Gudang
Untuk operasional dengan penggunaan berulang, pallet plastik dapat menjadi pilihan karena tersedia dalam berbagai ukuran, desain, dan kapasitas. Material seperti HDPE atau PP juga memiliki karakteristik yang mendukung penggunaan pada berbagai lingkungan gudang.
Pallet plastik dapat digunakan untuk kebutuhan penyimpanan, handling, staging, hingga distribusi selama spesifikasinya sesuai dengan berat muatan dan equipment yang digunakan.
Namun, pemilihan pallet sebaiknya tetap berdasarkan data. Pallet dengan kapasitas tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik jika ukurannya tidak sesuai dengan layout gudang atau sistem handling.
Kesimpulan
Menghitung kebutuhan pallet gudang perlu mempertimbangkan jumlah barang, kapasitas per pallet, ukuran produk, sistem penyimpanan, frekuensi handling, serta kebutuhan cadangan. Dengan perhitungan berbasis data, perusahaan dapat menghindari pembelian terlalu sedikit maupun terlalu banyak.
Langkah praktisnya adalah menghitung kebutuhan dasar berdasarkan kapasitas barang, menyesuaikannya dengan jumlah posisi penyimpanan, menambahkan kebutuhan receiving dan loading, lalu menyediakan cadangan untuk kondisi operasional.
Bagi perusahaan yang ingin meningkatkan efisiensi gudang, evaluasi kebutuhan pallet sebaiknya dilakukan secara berkala mengikuti perubahan volume barang, layout, sistem racking, dan pola distribusi.